Parenting Info

Efek Buruk Membandingkan Anak

Salah satu kebiasaan buruk orang tua yang kadang kurang disadari menjadi kebiasaan buruk dan berdampak kurang baik bagi anak adalah membandingkan anak dengan anak yang lain. Memang, hal ini bisa menjadi satu hal yang kurang terkontrol karena memang orang tua yang ingin anak untuk jauh lebih menonjol dibandingkan dengan teman-teman sebayanya. Dengan membandingkan diri anak dengan teman-temannya yang memiliki prestasi lebih, orang tua banyak beralasan demi untuk mendapatkan contoh yang baik. Namun justru sebenarnya dengan semakin membandingkan anak dengan pribadi anak yang lain membuat anak menjadi semakin tertekan dan sangat terbebani.

Sponsored by: dr rochelle skin expert

Efek Buruk Membandingkan Anak

Membandingkan bukan cara yang tepat untuk membuat anak bisa berkembang dan mendapatkan kondisi yang jauh lebih baik. Justru dengan terus menekan malah akan membuat anak menjadi lebih tertekan dan bisa berdampak buruk bagi anak. Meskipun niat utama dari orang tua dengan melakukan hal ini, dengan membandingkan anak dengan orang lain beranggapan supaya bisa menjadikan anak menjadi lebih baik, namun ternyata tidak seperti. Membandingkan bukanlah satu sikap memberkan motivasi yang baik tapi malah justru bisa sangat berdampak buruk bagi anak-anak. Efek Buruk Membandingkan Anak ini tentunya akan sangat berpengaruh dengan pertumbuhan anak dan juga bisa membuat anak mendapatkan beragam efek buruk seperti berikut ini.

1. Anak Menjadi Sosok yang Apatis

Saat anak sudah terlalu merasakan perbandingan yang dilakukan oleh orang tuanya, mereka akan merasa jika ia tidak memiliki lingkungan yang pas dan bisa menerima mereka apa adanya. Perasaan inilah yang akan menjadi bibit seorang anak memiliki sifat yang apatis dan seperti tidak peduli dengan lingkungan sekitarnya. Dia merasa tidak peduli dengan apa yang terjadi dilingkungan dia, bahkan dia juga tidak ingin mau tau tentang berbagai hal yang terjadi bahkan juga terhadap orang-orang yang ada dilingkungannya. Ia merasa jika lingkungannya menjadi lingkungan yang kurang ramah sehingga ia memilih untuk tidak lagi ikut campur atau berurusan lagi dilingkungan mereka tinggal.

2. Anak Menjadi Lebih Minder

Saat anak sudah mulai dibandingkan, satu sisi dalam diri anak bukan merasa menjadi jauh lebih baik tetapi melainkan anak malah akan menjadi lebih minder. Anak akan merasa jika dirinya tidak lebih baik dan jauh dari kata standard dari anak-anak lainnya. Apalagi disini yang berperilaku membandingkan adalah orang tua sendiri yang seharusnya menjadi payung bagi anak. Saat orang tua saja sudah membandingkan dengan orang lain dan bahkan cenderung menilai anak tidak bisa melakukan apa-apa, disini anak akan merasa menjadi pribadi yang tidak baik dan ia akan merasa jika dirinya sangat bodoh. Kepercayaan dirinya kemudian akan menghilang, sikap minder dan tidak bisa menerima pun akan menjadi hal yang terus dia rasakan.

3. Sulit Untuk Bergaul

Rasa minder dan tidak percaya diri semakin hari akan semakin tinggi yang anak rasakan. Ia akan merasa jika ia tidak bisa menjadi apa yang orang tuanya harapkan. Perasaan minder ini akan membuat ia menjadi pribadi yang sulit untuk bergaul dan berbaur kepada lingkungan, komunitas dan bahkan teman-temannya. Ia akan mencari lingkungan social yang bisa menerimanya apa adanya dan membuat ia merasa nyaman. Kesulitan inilah yang akan membuat ia menjadi kurang bisa untuk bergaul sehingga ia terus dan terus mencari dan terus menutup diri dengan lingkungan baru ataupun lingkungan sekitarnya.

4. Anak Menjadi Pribadi yang Tertutup

Jika penilaian dari orang tua saja ia rasakan begitu pedih dan menyakitkan, ia pun kemudian akan berpikir bagaimana penilaian yang bisa diberikan kepada orang lain. Ia merasa tidak pernah percaya diri dan merasa jika dirinya adalah sosok yang sangat rendah dibandingkan dengan teman-temannya. Dengan alasan inilah membuat ia menjadi pribadi  yang lebih baik tertutup dan menutup diri dari orang lain. Ia juga merasa jika dirinya tidak lebih baik dibandingkan dengan orang lain sehingga ia memilih untuk menutup dibandingkan harus kembali dibandingkan dan tidak bisa menjadi orang-orang yang ada dilingkungan sekitarnya.

5. Anak Menjadi Pribadi Pendendam

Saat anak mulai dibandingkan kemudian ia memilih untuk menjadi seorang pribadi yang selalu diam maka iapun akan memendam segala perasannya sendiri, tak terkecuali dengan perasaan marah ataupun kesal. Perasaan ini akan membawa dia menjadi pribadi yang suka untuk memendam karena perasaan yang ia timbun ketika ia kesal. Ia tidak memiliki ruang untuk berbagi, sehingga ia memilih untuk terus menyimpan perasaannya tersebut dan kemudian kekesalan ini nantinya berbalik menjadi perasaan dendam terhadap teman-temannya.

6. Membenci Orang Tua

Hal ini mungkin yang menjadi efek terburuk yang bisa didapatkan dengan membandingkan anak secara terus menerus. Efek buruk membandingkan anak yang paling bisa dirasakan oleh orang tua adalah anak akan menjadi pribadi yang membenci orang tuanya sendiri. Hal ini tentu saja dipicu karena orang tua yang terus saja membandingkannya dengan anak lain ataupun teman-temannya. Perasaan tidak terima karena dibandingkan tidak bisa untuk ia sampaikan kepada orang tua, sehingga ia memilih jalan untuk lebih baik membenci orang tuanya. Dengan hal ini, hubungan orang tua dan anak pun akan terus merenggang.

Setiap anak memiliki kecerdasan dan kepandaian yang berbeda antara satu anak dengan yang lain. Ada anak yang pandai dalam bidang pendidikan, ada anak yang pandai dalam bidang seni, ada juga anak yang pandai dalam bidang lain. Sebagai orang tua, tak berhak rasanya untuk membandingkan dan memotivasi dengan cara membandingkan. Lebih baik memberikan motivasi yang baik dan berikan arahan dengan segala sesuatu yang menjadi minat bagi anak.

Baca juga: Dampak Buruk Anak Sering Dimarahi

0
0%
like
0
0%
love
0
0%
haha
0
0%
wow
0
0%
sad
0
0%
angry

Comments

comments

To Top